Tradisi Ngaliwet di Pasir Banen: Menelaah Makna Sosial dalam Aktivitas Ngaliwet

Oleh: Rully Ranggawuni
Ngaliwet dalam tradisi masyarakat Sunda tidak hanya sekedar makan bersama. Jika kita telaah lebih jauh tradisi ini syarat akan makna sosial. Nilai-nilai sosial seperti kebersamaan, kesederhanaan, serta keakraban timbul dalam tradisi ini.
Secara harfiah ngaliwet berasal dari kata “liwet” yang berarti memasak. Nasi liwet merupakan nasi putih yang di masak dengan rempah-rempah dan bumbu khas seperti bawang, laos, serai, daun salam, santan dan lain-lain. Hidangan nasi liwet di santap bersamaan dengan lauk pauk tradisional Sunda seperti ikan asin, ayam goreng, sambal, dan juga lalapan. Untuk penyajian nya sendiri, nasi liwet beserta lauk pauk nya di sajikan di atas daun pisang yang di gelar memanjang, lalu di makan bersama-sama. Penggunaan alas pisang sebagai pengganti piring atau mangkok sebagai tempat makan bukan hanya sekedar penghematan atau kesederhanaan saja, tetapi syarat akan makna sosial.
Di desa Mekar Jaya, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur atau lebih tepatnya di dusun 2 Pasir Banen. Tradisi ngaliwet masih tetap diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat di Pasir Banen seringkali melakukan tradisi ini sebagai bentuk pelestarian budaya lokal atau upaya dalam menjaga kearifan lokal di tengah gempuran era modern atau globalisasi yang seringkali mengikis budaya lokal.
Tradisi ini seringkali dilakukan oleh masyarakat sana setelah aktivitas tertentu dilakukan semisal setelah kegiatan “Jumsih” atau Jumat Bersih yaitu kegiatan pembersihan lingkungan seperti memotong rumput di pekarangan rumah yang sudah memanjang serta memungut sampah yang ada di lingkungan sekitar atau setelah kegiatan kerja bakti bagi para kaum laki-laki. Aktivitas ngaliwet masih sering dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan menjaga tali persaudaraan/silaturahmi diantara masyarakat.
MAKNA SOSIAL DALAM TRADISI NGALIWET
-
Gotong Royong Dalam aktivitas Ngaliwet yang dilakukan oleh masyarakat Pasir Banen, nilai sosial seperti gotong royong terlihat dalam kegiatan ngaliwet. Pembagian tugas secara tidak langsung menjadi bukti bahwa gotong royong atau kerjasama timbul dalam aktivitas tersebut. Sebagian orang ada yang menyiapkan bahan-bahan makanan, ada yang memasak, ada yang mengambil daun pisang untuk dijadikan alas ketika makan bersama dilakukan atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan istilah “Botram”. Semua proses tersebut dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan kerjasama.
-
Menghilangkan Kelas Sosial Dalam masyarakat Indonesia pada umumnya terdapat kelas sosial. Yakni kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. Dalam aktivitas Ngaliwet semua kelas sosial tersebut hilang secara tidak langsung. Orang-orang yang memiliki jabatan dimasyarakat seperti RW atau RT pada aktivitas tersebut semuanya berbaur dan melepaskan jabatan mereka, semuanya sama atau “Egaliter”. Pada proses penyiapan bahan-bahan atau memasak semuanya ikut serta tanpa memilah-milih kelas mana yang harus bekerja lebih keras semuanya sama bekerja sesuai porsi dan tugasnya. Yang terlihat jelas bahwa kelas sosial hilang pada aktivitas Ngaliwet adalah ketika makan dilakukan. Makanan yang telah matang dihidangkan diatas daun pisang sebagai bentuk kesederhanaan. Serta semuanya duduk bersama tanpa memandang kelas sosial mana yang lebih atas. Dari aktivitas tersebut terlihat bahwa semuanya sama atau “Egaliter”.
-
Merawat Silaturahmi/Keakraban Merawat keakraban dalam tradisi ngaliwet masyarakat Sunda dilakukan melalui kebersamaan makan nasi liwet dari daun pisang, gotong royong menyiapkan hidangan, dan duduk melingkar tanpa sekat sosial. Duduk melingkar atau sejajar menandakan bahwa semua orang sejajar dan setara saat makan bersama. Daun pisang sebagai alas makan sederhana yang mempererat rasa kekeluargaan. Gotong royong melambangkan kerja sama dari urusan masak hingga menyiapkan tempat. Nilai keakraban yang nampak ialah bagaimana menghilangkan jarak antargenerasi dan status sosial di masyarakat. Di sisi lain menjadi ruang komunikasi hangat untuk saling bercengkerama dan berbagi cerita serta mempererat tali silaturahmi yang kokoh di antara tetangga dan sanak saudara.
Perlu ditekankan bahwa Ngaliwet bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan warisan sosial yang membentuk karakter masyarakat. Di tengah tantangan zaman, tradisi tersebut mengajak generasi muda untuk kembali ke akar: menyantap makanan dengan rasa hormat, menyatu dengan alam, dan saling menguatkan dalam kebersamaan.
