Edukasi Dini Pengolahan Sampah Melalui Kreasi Gantungan Kunci

Oleh: Rully Ranggawuni
Sampah sudah menjadi permasalahan umum sampai saat ini dimanapun dan bagi siapapun. Banyak produsen makanan dan produsen minuman memakai bahan plastik sebagai kemasan produk mereka. Alhasil sampah setiap harinya bertambah secara populasi. Faktor yang menyebabkan penumpukan sampah sangat beragam mulai dari penanganan yang kurang baik perihal sampah semisal tidak adanya proses pemilahan sampah secara pribadi, tidak adanya TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di beberapa titik wilayah di lingkungan masyarakat. Namun yang menjadi point penting dan paling dasar ialah bagaimana kesadaran masyarakat kita pada umumnya terkait penanganan sampah plastik masih dibawah rata-rata bahkan kalah jauh sama negara tetangga, seperti Singapura yang sudah maju perihal penanganan serta pengolahan sampah.
Per tahun 2025, Indonesia masuk dalam kategori negara penyumbang sampah terbesar di dunia menempati posisi 5 setelah Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Brasil. Penting bahwa penanganan sampah adalah tugas bersama tidak hanya dibebankan pada Pemerintahan sebagai pemangku kewajiban membuat program penanganan dan pengolahan sampah, tetapi juga masyarakat yang menjadi aktor dalam penanganan sampah ini.
Di Kampung Pasir Banen, desa Mekar Jaya, Kabupaten Cianjur. Permasalahan sampah juga menjadi masalah utama hingga saat ini. Salah satu akar permasalahannya utama ialah tidak adanya TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang tersedia di wilayah tersebut serta jadwal pengangkutan sampa yang hanya dilakukan seminggu sekali dan belum berjalan secara maksimal. Pada akhirnya permasalahan sampah menjadi cerita lama yang terus berulang. Sampah plastik, sampah bekas dapur seperti sayuran dan nasi, sampah pampers, serta jenis sampah lainnya menjadi masalah utama hingga saat ini.
Dalam menumbuhkan kesadaran diri dalam mengatasi masalah sampah harus ditanamkan sedari usia dini terutama bagi anak-anak sekolah dasar. Menumbuhkan kesadaran diri tentang sampah sejak dini adalah langkah paling strategis untuk menciptakan perubahan lingkungan jangka panjang. Ketika kebiasaan menjaga kebersihan dibentuk sejak kecil, perilaku tersebut akan melekat hingga dewasa menjadi sebuah karakter, bukan lagi paksaan. Banyak faktor mengapa menumbuhkan kesadaran diri harus dilakukan kepada anak usia dini dikarenakanan :
- Anak kecil mudah menyerap informasi Otak anak-anak seperti spons yang meniru kebiasaan di sekitarnya.
- Menjadi kebiasaan otomatis Membuang sampah pada tempatnya akan menjadi refleks, bukan beban.
- Sulit mengubah perilaku dewasa Mengubah kebiasaan orang dewasa jauh lebih menantang daripada mendidik anak-anak.
Tiga faktor tersebut menjadi bukti bahwa untuk menumbuhkan kesadaran diri terhadap penjagaan lingkungan harus dilakukan sejak kecil untuk menciptakan perubahan lingkungan jangka panjang.
Kami mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok KKN 196 desa Mekar Jaya. Membuat sebuah program kerja berupa pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas. Program kerja tersebut dilakukan dalam beberapa tahapan:
- Pertama, kami menginformasikan kepada pihak sekolah terutama kepada guru-guru untuk menginformasikan kepada anak-anak sekolah dasar negeri Pasir Banen untuk mengumpulkan tutup botol bekas.
- Kedua, beberapa hari sebelum workshop dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2026. Kami mahasiswa KKN 196 desa Mekar Jaya melakukan pelatihan mandiri sebagai bentuk persiapan sebelum workshop gantungan kunci dilakukan.
- Ketiga, pada tanggal 4 Agustus 2026. Workshop pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas dilakukan di sekolah dasar negeri Pasir Banen. Melibatkan siswa kelas 1-6.

Dari kegiatan workshop yang telah dilakukan kami menemukan beberapa point penting:
- Pertama, timbulnya antusiasme anak-anak sekolah dasar dalam mendaur ulang sampah botol bekas minuman menjadi gantungan kunci.
- Kedua, kesadaran diri dalam mengolah sampah menjadi sebuah produk yang memiliki nilai guna dan bahkan nilai jual mulai timbul pada anak-anak. Diharapkan langkah awal ini dapat menjadi pemantik awal dalam pembentukan karakter mereka menjadi seorang yang sadar akan lingkungan.
- Ketiga, anak-anak belajar bersosialisasi dengan baik melalui workshop pembuatan gantungan kunci sebagai bentuk pembelajaran mereka dalam bermasyarakat.
- Keempat, tercipta produk yang memiliki nilai guna yaitu gantungan kunci dari tutup bekas.
Kegiatan workshop pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas minuman yang dilakukan oleh kelompok KKN 196 desa Mekar Jaya yang melibatkan anak-anak sekolah dasar negeri Pasir Banen merupakan salah satu langkah awal untuk menyadarkan mereka bahwa merawat lingkungan harus dilakukan sedari dini. Permasalahan sampah yang masih terjadi di wilayah Pasir Banen bukan persoalan yang hanya dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Melainkan kerjasama berbagai pihak. Kegiatan workshop pembuatan gantungan kunci tersebut merupakan langkah awal untuk mengedukasi anak-anak dalam penanganan dan pengolahan sampah yang terjadi, dikarenakan mereka lah yang nanti tumbuh besar disana dan merekalah yang juga akan berkontribusi dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sampah beberapa tahun ke depan. Kami mahasiswa KKN 196 desa Mekar Jaya hanya berperan sebagai Fasilitator atau agen penggerak nagi mereka supaya mereka punya kesadaran diri dan kreatifitas yang luas dalam mengatasi permasalahan-permasalahan perihal sampah yang bisa saja masih tetap ada di Pasir Banen dalam beberapa tahun kedepan. Besar harapan, persoalan sampah dapat teratasi dan mereka yang menjadi aktor utama dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sampah di wilayah mereka sendiri.

